Jumat, 06 Maret 2015

nyanyi~~~~


apakah memang kamu pernah menyayangiku, aku pun tak pernah tahu..
karena kamu memang tak pernah membiarkanku tahu.. 
atau kalaupun aku pernah merasa tahu, di akhir perbincangan kita, kau menekankan bahwa aku tidak pernah ada artinya buatmu dan katamu, 'just leave me alone, stay away from me'.

kamu hadir saat aku jatuh dan hancur lebur. tak pernah ramah padaku, tapi aku merasa ada benang merah di antara kita. tanpa kata, aku merasa kita saling merasa ada. tapi kini, terpikir olehku semua itu hanya halusinasiku saja. pantulan dari harapan dan keinginanku berkawan denganmu. cerminan dari pencarianku akan kehadiran teman dalam hidupku.

ketika akhirnya semua berlalu dalam permusuhan sengit, kau pun menggugat diksi-ku tentang kehilanganmu. bagimu, kehilangan berarti pernah memiliki. sementara kau menepis mentah2 aku pernah memilikimu sebagai apapun. teman pun bukan.

satu ketika kau pernah berkata, bahwa aku bukanlah temanmu, tak pernah menjadi temanmu. kalaupun pernah di satu masa kau bercerita banyak hal yang bahkan tak kau ceritakan ke teman2mu, maka alasannya menurutmu hanyalah, ''kamu mau dengerin sih''. tak lebih tak kurang. tanpa makna dan bukan sesuatu yang punya arti.

kini, seperti bintang di langit, biarkan saja aku memandangimu dari kejauhan. atau biarkan sesaat kau muncul di kenangan. kucoba kenang hal2 yg indah saja. kucoba ingat hal2 yg membuatku berarti dalam hidupmu. aku tahu ini semua semu dan palsu, tapi inilah caraku bertahan hidup tanpa harus hancur ketika waktu memastikan kau berlalu dari hidupku.
di manapun kamu berada, tersenyumlah. mungkin itu jalanmu. kalaupun kau merasa itu salah dan butuh tempat bersandar sejenak, kau tahu kamu selalu bisa menemukanku. 

Kamis, 01 Januari 2015

SUKA GAK SUKA



"Kamu jangan nyama-nyamain aku sama kamu sendiri ya, dan jangan nyimpul-nyimpulin sendiri! udah nambah lagi yang aku gasuka dari kamu!"
Pesan singkat Sambar di telpon genggam Ruth, membuat Ruth buru-buru menarik nafas dalam di balik pintu kamarnya. Ingatan Ruth langsung kembali ke percakapan hujan-hujan yang lalu.



Delapan hujan yang lalu,

"Saya sudah tahu, dan saya rasa kita sudah sadar, kita sama. Anggaplah sebangsa dan sejenis", kata lelaki yang menjawab di sebrang jalur telpon genggamya. "Sudahlaaaah, kita bukan apa-apa, senang, selesai. Begitupun kamu, ya kan Ruth?"

"Dengar, cintaku sudah hilang entah kemana Ruth. Fahami itu".

"Sekarang, cerita apa lagi yang ingin kamu ketahui tentang saya Ruth?"

"Kamu unik, tapi sayang sekali kamu terlalu cepat menyimpulkan sesuatu Ruth. Ayolaah.."




Tujuh hujan yang lalu,

"Sudah sejauh ini dan saya suka dengan cara kamu berusaha untuk mendapatkan yang kamu harapkan"

"Saya akan bercerita pada kamu seperti apa membosankannya hubunganku saat itu"

"Saya tidak suka Ruth dengan sifat kita (saya dan dia) yang seperti itu dan selalu berakhir seperti ini"

"Saya tidak ada harapan dengan dia, sudahlah, tidak akan Ruth"

"Saya rindu kamu, jadi kamu sedang berbunga-bunga?"

"Kamu sudah berhasil Ruth, berhasil membuat saya untuk mempertimbangkan kembali tentang kamu"




Enam hujan yang lalu,

"Ruth, dengarkan saya. Mungkin ini yang terakhir."

"Kamu beruntung Ruth, bisa mengetahui tentang aku sejauh ini. Aku sering merasa sendiri, mungkin karena beban yang gapernah mau aku bagi."

"Kamu menyenangkan (lucu juga) dan lebih dari yang aku harapkan dari seorang wanita. Kamu mau mengerti, mengimbangi, memaklumi. Terima kasih, Ruth. Senyaman ini bersama orang yang 'Sama' dengan kita. Aku belum menemukan yang aku tidak suka dari kamu, Ruth"

"Saya rindu kamu, Ruth"

"Ah, jika kamu bilang begitu, saya jadi ingat dengan dia. Dia suka sekali hal itu."




Lima hujan yang lalu,

"Saya baru saja menghubungi dia Ruth, seperti ini ceritanya."


"Apa yang kamu pikirkan Ruth? Bukankah kita sudah membahas akan hal ini? Kita sama, bahkan tujuan saya bahkan tidak kurang dan tidak lebih hanya sebatas ini. Pacar, tidak. TTM pun, tidak Ruth. Saya rasa kamu juga berfikir seperti itu, karena kita sama"

"Kamu memang berhasil, tapi kamu tidak menang Ruth"

"Tidak secepat ini kamu bisa mengenal saya dan mendapatkan cinta saya"

"Saya minta maaf, saya sudah pernah menyampaikan ini di hujan sebelumnya. Baik, saya akan menegaskan lagi supaya kamu faham tentang kepribadian dan tujuan saya"




Empat hujan yang lalu,

"Saya penasaran bagaimana kamu merapalkan SETIA, CINTA, dan LAKI-LAKI"

"Dan jujur Ruth, saya pun tidak tertarik dengan kamu. Kamu terlalu penurut. Mudah dimasuki omongan dari siapapun. Tidak bisa menyaring omongan dari saya, terlepas itu idealismeku atau nasehatku. Kamu tidak jauh beda dengan wanita lain. Dan itu bukan tipe yang saya sukai. Maaf atas kejujuran saya, Ruth"

"Mungkin kamu bisa dengan mudah mencari kesenangan, bersama sama, dia, dan yang lain. Bersenang-senang. Kita sama, aku pun kadangkala hidup seperti itu, benar bukan? Kita sama bukan? Ya kan Ruth?"




Tiga hujan yang lalu,

"Waktu kita yang salah, ceritanya mungkin tidak akan seperti ini jika kita bertemu sebelum ini, atau mungkin nanti"

"Ruth, mengapa kamu tak mencoba menggunakan perasaan dahulu lalu menginjak ke harapan? Mengapa kamu tidak berusaha meraih perasaan saya dahulu, mungkin di situ kamu akan mendapatkan harapanmu bersamaku?. Siapa tahu saya akan luluh, siapa tahu kita bisa bersama?"

"Baiklah jika memang perasaanmu bisa dikalahkan oleh harapan, saya setuju dengan cara kamu berfikir dan mengurangi perih yang berlebih-lebih."

"Jadi gini Ruth, benarkan kamu tidak memiliki perasaan terhadap saya? sedikitpun? kamu pasti punya Ruth. Jujurlah"




Dua hujan yang lalu,

"Hari ini kamu happy sekali" 

"Hmm.. Lalu, bagaimana ceritamu Ruth?"

"Seperti ini kisah keluargaku,"

"Ruth, kamu cinta dengan saya? paling tidak kamu menaruh perasaan. Jangan bohongi perasaanmu Ruth, saya tidak suka"



Hujan Kemarin,

"Saya rindu sekali dengan kamu, bisa dibilang 'gemes', itulah puncak rindu saya Ruth"

Mereka berdua berbincang sepanjang malam, di hujan itu Ruth menceritakan beberapa (yang menurut Sambar itu sudah cukup banyak) kisahnya dengan semangat. Membicarakan masa depan yang sesungguhnya membuat Ruth khawatir. Ruth terbiasa menyimpulkan sesuatu yang berada di pikirankan, sedangkan Sambar terbiasa dengan sangat mudah menyatakan emosinya yang tidak pernah tentu yang sedang dia rasakan kepada seseorang. 









Ruth kembali membaca pesan singkat di telpon genggamnya sekali lagi, memastikan tidak ada kalimat yang terlewatkan. 

SENJA AWAL TAHUN, tanpa hujan.
maaf . mendengarkan . tetap di sini . tidak akan menyakiti lebih jauh . Ruth will leave this here.

Pada akhirnya mereka mengartikan harapan dengan cara mereka sendiri-sendiri, dan memilih bahagia dengan jalan sendiri-sendiri. Kadang cinta sebercanda itu.. haha.

"Kamu jangan nyama-nyamain aku sama kamu sendiri ya, dan jangan nyimpul-nyimpulin sendiri! udah nambah lagi yang aku gasuka dari kamu!"
Pesan singkat Sambar di telpon genggam Ruth, membuat Ruth buru-buru menarik nafas dalam di balik pintu kamarnya. Ingatan Ruth langsung kembali ke percakapan hujan-hujan yang lalu.

Mengenai Saya

Foto saya
(1402300037) Mahasiswa Diploma III Poltekkes Kemenkes Malang Prodi Kebidanan Jember, biasa disebut Kampus MOJ. Happy Midwifery. Positive Mind, Positive Vibes, Positive Pregnancy.