Jumat, 05 Februari 2016

Whatever the Score


Hari ini ayah bertemu banyak orang..
Pagi ini ayah berangkat melaksanakan tugasnya di pendidikan..
Pagi ini ayah disibukkan dengan agendanya yang super padat..
Pagi ini ayah memulainya dengan semangat..

Siang ini ayah pergi kesana - kemari dengan jadwal meetingnya..
Siang ini ayah menuju Masjid untuk mengimami dan khutbah..

Sore ini ayah menemuiku sepihak janji untuk menjemputku di asrama..
Sore ini ayah memberiku kesempatan (yang kesekian kalinya) untuk mengendarai SIM A..

Malam ini ayah pulang sedari mengisi pengajian..
Malam ini ayah pulang mengendarai sepeda motor yang dibawanya..
Malam ini ayah pulang dengan batuk-batuk yang terdengar dari jalan depan rumah..
Malam ini ayah aku beri kabar tentang nilaiku yang sudah keluar..
Malam ini ayah mengucapkan "Waaa... Congratulation! You're Good" setelah melihat..


Faktanya,
Tidak, sebenarnya tidak hanya pagi, siang, sore dan malam ini ayah begitu. Ayah selalu begitu. Setiap hari seperti itu.

Mari bahas terlebih dahulu tentang nilaiku. Sebenarnya nilaiku turun dan ayah tahu akan hal itu.
Dulu ketika masa SMP (lebih tepatnya kelas 1 dan 2) aku selalu malu dan menutupi nilai2ku. matematika yang selalu mendapat angsa bertelur alias 20. Fisika yang tidak pernah lebih dari 48.
Lalu, bagaimana aku survive dari meminta tanda tangan ketika nilai ulangan harian dikeluarkan?
Ya, minta tanda tangan ke ayah di pagi buta. Entah cara apa itu, meminta tanda tangan dengan lampu yang sengaja tak dihidupkan dengan alasan umum tak ingin mengganggu istirahat, padahal sudah membangunkan (maksudnya, agar tidak lebih parah lagi. sudah membangunkan, masih menghidupkan lampu kamar). Ayah memang tak pernah bertanya banyak ketika aku kebingungan atau ketika tahu ada yang ingin aku tutupi, mungkin tidak ingin aku berbohong, jadi lebih baik diam dan diselesaikan dengan berfikir dewasa. Pernah ada masanya ketika kelas 2 SMP, rankingku sangat jauh dari memuaskan. Aku urutan perempuan kedua dari bawah di kelas. Aku lupa, senakal apa aku saat itu. Yang aku ingat hanya, menganggu temanku, tidak masuk sekolah, pacaran, tidak pernah belajar di rumah, tidak menghiraukan guru baru. ah, 1 yang aku lupa.. mungkin ini yang fatal, aku tidak punya kesungguhan.

Baik, kembali lagi pada ayah dan nilaiku.
Ayah tidak pernah memarahiku tentang nilai akademikku. Bukannya ayah tidak perhatian dengan masa depan anaknya. Mungkin ayah sudah tahu, apa apa yang lebih penting diutamakan dan difokuskan ketika nilaiku muncul. Sampai saat ini aku masih belum bisa menyimpulkan apa apa itu, tapi sedikitnya aku bisa merasakan salah satunya, yakni TANGGUNG JAWAB.

bukan, bukan tanggung jawab seorang anak untuk mendapat nilai bagus dengan banyak dan segala cara.
tanggung jawab ilmu itulah yang perlu di usut bagaimana penguraiannya di kehidupan.
kamu dapat nilai segini, apa yang harus kamu lakukan selanjutnya? untuk kamu, yang lain, disekitarmu, yang memberimu akal, yang merawatmu selama ini?

Ilmu tidak boleh berhenti hanya di stage NILAI. kalo kamu hidup untuk nilai, ya seperti itulah hidupmu, penuh nilai. Bagaimana kamu menilai? Bagaimana orang lain menilaimu? Bagaimana nilainya? cara kamu berfikir adalah bagaimana aku dinilai orang dan bagaimana aku akan menilai. selesai.


Pernah di masa SMA, ayah dan guru yang lain sedang bertugas mengawas saat ujian di sekolahku berlangsung (ya, aku sekolah di tempat kerja ayahku). Perlu diketahui, selain dikenal dengan wibawa, humoris dan eksentriknya ayah ketika mengajar, ayah juga dikenal sebagai guru yang dihindari siswa ketika masa ujian karena ayah selalu tahu siapa siapa yang melakukan kecurangan.
Siang itu materi geografi. Sebenarnya aku sedikit kurang peduli dengan materi ini, karena tidak pernah mempraktekkan apa-apa. Di depanku duduk teman wanita yang sepertinya sangat gusar dan kuatir jika nilainya jelek (read : nyontek buku). Mungkin sedang apesnya, guru yang sedang mengawasi tau dan mendatangi, tak lupa menyita buku itu. Dan yang membuat aku ikut sebal adalah beliau mengira temanku ini sekongkol denganku karena ternyata buku yang dia pakai untuk memanipulasi nilainya adalah bukuku. Situasi pada saat itu adalah, tegang, panas, karena aku mencoba menjelaskan diri yang tidak bersangkutan sedangkan beliau tidak mau mendengar dan tidak mau tau apapun yang aku katakan. Oh, God.. seperti itukah ? hhrr..
Sampai disini aku masih memaklumi salah paham ini, sampai pada akhirnya ketika pulang sekolah dan seperti biasa pulang bersama ayah.

Ayah bertanya "Restu mencontek?"
"Ah, tidak yah"
"Bu A bilang begitu tadi siang"
"Jadi begini yah...(menjelaskan)"
"Ya, Baik. Besok jelaskan kepada Ibu A dengan kalimat yang santun dan baik"

Dari sini sudah jelas, nilai dan ilmu tidak bisa dicampur adukkan dengan kepastian yang mutlak.


Bagaimana dengan nilai malam ini? ya.. ini


Sebenarnya nilaiku selalu turun.. sejak semester 1. dari 3,84 --> 3.60 --> 3.56
Seringnya aku kuatir, seperti teman-temanku lainnya yang sangat kuatir juga karena nilainya turun dan kuatir mengecewakan orang tua mereka.
Ya, sama. Awalnya aku berfikir begitu. But what? lagi-lagi ayah selalu memberiku ucapan selamat dengan nilaiku yang sebenarnya turun. 

The result is I feel blessed. bersyukur untuk semuanya. bersyukur masih diberi kesempatan untuk mempraktikkan ilmu. perlu diketahui, mempraktikkan ilmu di sini bukan hanya ilmu materi. tapi ilmu menerima dan mengolah. menerima yang sudah diberikan, dan mengolahnya menjadi lebih baik. perdayakan apa yang dimiliki sekarang. 

mungkin...
mungkin aku akan menyesal. jika aku tidak bisa menerapkan apapun, tidak bisa mempertanggung jawabkan nilai ini. tidak bisa mengolah softskill dan afektifitas di kehidupanku. lebih lebih di keluargaku. aku akan menyesal jika peluh yang ayah lakukan selama ini sejak pagi buta hingga larut malam tidak berarti apa-apa bagiku. aku akan menyesal dan merasa terkutuk tiap kali mendengar batuk batuk beliau sepulang dari bekerja. aku akan merasa malu dan tidak pantas mendapat kesempatan dijemput dan megendarai ini itu.

Ada banyak yang belum kamu tahu, mungkin belum saatnya. tentang orang orang tua yang rajin berolahraga, dan berjam-jam bersimpuh lama ditempat ibadah disamping melakukan pekerjaannya, apa yang mereka rahasiakan?. mungkin kamu sudah tahu, sudah sangat tahu.

"Nak,... "

Selasa, 26 Januari 2016

30 Maret

Penanda tanggal ulang tahun..
ya..
penanda tanggal ulang tahun saya..
kenapa saya ingin mengulang cerita 30 Maret?
banyak tanggal yang menarik pada harinya sendiri, tapi saya mulai saja di tanggal ulang tahun saya,

ada beberapa hari di ulang tahun saya yang ingin saya tulis.. kenangan, ya kenangan bisa menggoda keabadian. tulis dan tuturkan, jika beruntung menjadi cerita, menjadi legenda.

Saya tidak punya banyak foto ketika masih kecil, pun foto studio bayi yang diabadikan seperti masa kecil kakak pertama saya. saya anak terakhir dari 3 bersaudara. tidak heran, kebanyakan pasangan atau orang tua pasti lumrah mengaggap anak sulung pasti menjadi anak kebanggan pada masanya saat itu. 

30 Maret 1996
lahir di Jember dan pertama kali membuka mata di puskesmas sumbersari, menangis dan diadzan'i. 

30 Maret 2008
ini pertama kali saya meminta ulang tahun saya dirayakan. 

pada masanya saat itu teman-teman banyak yang merayakan ulang tahunnya di sekolah bersama teman-teman sekelas. membagikan kue dan merapalkan doa bersama.

saya coba meminta juga ke Ayah pada saat itu, dengan alasan "sudah kelas 6 yah, kan ga bareng-bareng lagi ntar sama temen-temen". 

Alasan tidak kuat sama sekali yang sebenarnya hanya bertujuan ingin ikut-ikutan seperti teman-teman itu pada akhirnya tak jadi. 

Namun ketika makan siang, ayah pulang membawa makanan sedapat dari rapat di kantornya dan mengucapkan "Selamat ulang tahun, itu ada makanan untuk Restu di dalam tas ayah".

30 Maret 2011
pada hari itu saya sudah punya pacar, tepatnya di kelas 3 SMP. Dia teman sekelas saya, Angga. tak lain dan tak heran saya pasti mendapat kado ulang tahun pertama saya dari teman (dekat) saya. Boneka kukang abu-abu dengan sepucuk surat yang ehem gombalnya. 

30 Maret 2012
saya sudah SMA namun sudah tidak bersama Angga, dengan kata lain saya berpacaran dengan murid sekolah tetangga, Roury. sekilas info, Roury 2 tahun di atas saya dan sudah kelas 3 SMA. sore itu saya tidak bisa kemana-kemana, karna kedapatan tugas mengantar proposal OSIS. 

Roury sedikit sebal, yah apalagi jika karena alasan saya : 
sibuk...
tidak bisa diajak keluar...
tak ingin jalan-jalan jauh... 
(kenapa? Ya, saya backstreet. keluarga melarang saya pacaran pada saat itu.)
dia sempat temui saya di ruang tunggu dan pamit pulang. meninggalkan boneka bantal angry bird warna kuning di Sepeda saya.


30 Maret 2013
Singapur. Lebih tepatnya 29 Maret saya sudah check out dan berpulang ke Ina. yah, tapi tetap saja saya anggap itu masuk dalam hari ulang tahun saya. beberapa hari di sana, sudah cukup puas bagi saya. 

kali ini saya sudah tidak bersama Roury, mungkin saya tidak bisa menjaga dia, ada yang selalu ada baginya membuat saya kalah telak.

Rahmad, saya berpacaran dengan laki-laki tegap pecinta alam yang menempuh studi perkuliahan di bidang kesehatan  itu dengan status LDR Malang-Jember. jangan bilang saya kapok dengan mengambil keputusan berpacaran yang jika ingin bertemu saja harus menunggu bulanan. 

hari itu dia tidak bisa pulang ke Jember (rumah aslinya Jember). jadi dia kirim video cerita kita. dengan backsound lagunya filter-abadinya cinta. *no post needed*

30 Maret 2014
banyak hadiah di tahun ini. dari kakak ipar, mbak Ressa.

Barang serba pink dari Azzah , Sella (mereka temen yang paling nempel dan gak neko-neko). *merayakan tak pada hari H :p

Dan pagi hari dapet kejutan dari pacar yang katanya ngga bisa ikut merayakan, ternyata datang dan nemuin ke jember. ditraktir nasi padang, selfie dan diberi hadiah coklat2 lucuk.

30 Maret 2015
Berstatus ketua kelas semester 2 di kampus...
berstatus adik kamar Mbak Anggra dan Mbak Eka di asrama 15 baru...
berstatus saudara kamar Ica Maulina...
Berstatus pacar dari Rahmad...
berstatus tante dari Khayla..
berstatus adik ipar dari Mas Indra (suami mbak) dan Mbak Ressa (Istri mas)..

ya, setidaknya itu hal-hal baru yang aku dapat di tahun itu.
seperti biasa, azzah dan sella merayakan tak pada hari H dengan kue yang manis seperti yang sedang berulang tahun

keluarga kamar 15 asrama baru dengan kejutan kue dan boneka guling. alasan tak lain adalah karena saya suka meluk tiang ranjang kalau tidur sambil ngelindur sebelum ada guling ini.


ya begitulah ulang tahun saya bersama orang-orang baru ini.

pacar? diucapkan di akhir malam tanggal 30 Maret. saya diputusin satu hari setelah ulang tahun. lagi lagi saya kalah telak dengan perempuan lain yang selalu ada bersama dia, selama saya di sini. ada yang dia cinta, begitu katanya. ada yang harus dia pilih, katanya.

.
.
.
.
yah begitulah hari ulang tahun saya selama ini, belum pernah ada perayaan hingga mengundang orang. tidak ada yang setuju dengan hal itu, saya pun tidak ada hasrat lagi untuk membuat itu. bersama dengan orang-orang yang senang dan sayang dengan saya, sudah sebuah anugrah yang patut di syukuri.



sekarang sudah 2016. ada yang saya tunggu. tapi tidak saya utarakan di sini kali ini. mungkin nanti.

Jumat, 06 Maret 2015

nyanyi~~~~


apakah memang kamu pernah menyayangiku, aku pun tak pernah tahu..
karena kamu memang tak pernah membiarkanku tahu.. 
atau kalaupun aku pernah merasa tahu, di akhir perbincangan kita, kau menekankan bahwa aku tidak pernah ada artinya buatmu dan katamu, 'just leave me alone, stay away from me'.

kamu hadir saat aku jatuh dan hancur lebur. tak pernah ramah padaku, tapi aku merasa ada benang merah di antara kita. tanpa kata, aku merasa kita saling merasa ada. tapi kini, terpikir olehku semua itu hanya halusinasiku saja. pantulan dari harapan dan keinginanku berkawan denganmu. cerminan dari pencarianku akan kehadiran teman dalam hidupku.

ketika akhirnya semua berlalu dalam permusuhan sengit, kau pun menggugat diksi-ku tentang kehilanganmu. bagimu, kehilangan berarti pernah memiliki. sementara kau menepis mentah2 aku pernah memilikimu sebagai apapun. teman pun bukan.

satu ketika kau pernah berkata, bahwa aku bukanlah temanmu, tak pernah menjadi temanmu. kalaupun pernah di satu masa kau bercerita banyak hal yang bahkan tak kau ceritakan ke teman2mu, maka alasannya menurutmu hanyalah, ''kamu mau dengerin sih''. tak lebih tak kurang. tanpa makna dan bukan sesuatu yang punya arti.

kini, seperti bintang di langit, biarkan saja aku memandangimu dari kejauhan. atau biarkan sesaat kau muncul di kenangan. kucoba kenang hal2 yg indah saja. kucoba ingat hal2 yg membuatku berarti dalam hidupmu. aku tahu ini semua semu dan palsu, tapi inilah caraku bertahan hidup tanpa harus hancur ketika waktu memastikan kau berlalu dari hidupku.
di manapun kamu berada, tersenyumlah. mungkin itu jalanmu. kalaupun kau merasa itu salah dan butuh tempat bersandar sejenak, kau tahu kamu selalu bisa menemukanku. 

Kamis, 01 Januari 2015

SUKA GAK SUKA



"Kamu jangan nyama-nyamain aku sama kamu sendiri ya, dan jangan nyimpul-nyimpulin sendiri! udah nambah lagi yang aku gasuka dari kamu!"
Pesan singkat Sambar di telpon genggam Ruth, membuat Ruth buru-buru menarik nafas dalam di balik pintu kamarnya. Ingatan Ruth langsung kembali ke percakapan hujan-hujan yang lalu.



Delapan hujan yang lalu,

"Saya sudah tahu, dan saya rasa kita sudah sadar, kita sama. Anggaplah sebangsa dan sejenis", kata lelaki yang menjawab di sebrang jalur telpon genggamya. "Sudahlaaaah, kita bukan apa-apa, senang, selesai. Begitupun kamu, ya kan Ruth?"

"Dengar, cintaku sudah hilang entah kemana Ruth. Fahami itu".

"Sekarang, cerita apa lagi yang ingin kamu ketahui tentang saya Ruth?"

"Kamu unik, tapi sayang sekali kamu terlalu cepat menyimpulkan sesuatu Ruth. Ayolaah.."




Tujuh hujan yang lalu,

"Sudah sejauh ini dan saya suka dengan cara kamu berusaha untuk mendapatkan yang kamu harapkan"

"Saya akan bercerita pada kamu seperti apa membosankannya hubunganku saat itu"

"Saya tidak suka Ruth dengan sifat kita (saya dan dia) yang seperti itu dan selalu berakhir seperti ini"

"Saya tidak ada harapan dengan dia, sudahlah, tidak akan Ruth"

"Saya rindu kamu, jadi kamu sedang berbunga-bunga?"

"Kamu sudah berhasil Ruth, berhasil membuat saya untuk mempertimbangkan kembali tentang kamu"




Enam hujan yang lalu,

"Ruth, dengarkan saya. Mungkin ini yang terakhir."

"Kamu beruntung Ruth, bisa mengetahui tentang aku sejauh ini. Aku sering merasa sendiri, mungkin karena beban yang gapernah mau aku bagi."

"Kamu menyenangkan (lucu juga) dan lebih dari yang aku harapkan dari seorang wanita. Kamu mau mengerti, mengimbangi, memaklumi. Terima kasih, Ruth. Senyaman ini bersama orang yang 'Sama' dengan kita. Aku belum menemukan yang aku tidak suka dari kamu, Ruth"

"Saya rindu kamu, Ruth"

"Ah, jika kamu bilang begitu, saya jadi ingat dengan dia. Dia suka sekali hal itu."




Lima hujan yang lalu,

"Saya baru saja menghubungi dia Ruth, seperti ini ceritanya."


"Apa yang kamu pikirkan Ruth? Bukankah kita sudah membahas akan hal ini? Kita sama, bahkan tujuan saya bahkan tidak kurang dan tidak lebih hanya sebatas ini. Pacar, tidak. TTM pun, tidak Ruth. Saya rasa kamu juga berfikir seperti itu, karena kita sama"

"Kamu memang berhasil, tapi kamu tidak menang Ruth"

"Tidak secepat ini kamu bisa mengenal saya dan mendapatkan cinta saya"

"Saya minta maaf, saya sudah pernah menyampaikan ini di hujan sebelumnya. Baik, saya akan menegaskan lagi supaya kamu faham tentang kepribadian dan tujuan saya"




Empat hujan yang lalu,

"Saya penasaran bagaimana kamu merapalkan SETIA, CINTA, dan LAKI-LAKI"

"Dan jujur Ruth, saya pun tidak tertarik dengan kamu. Kamu terlalu penurut. Mudah dimasuki omongan dari siapapun. Tidak bisa menyaring omongan dari saya, terlepas itu idealismeku atau nasehatku. Kamu tidak jauh beda dengan wanita lain. Dan itu bukan tipe yang saya sukai. Maaf atas kejujuran saya, Ruth"

"Mungkin kamu bisa dengan mudah mencari kesenangan, bersama sama, dia, dan yang lain. Bersenang-senang. Kita sama, aku pun kadangkala hidup seperti itu, benar bukan? Kita sama bukan? Ya kan Ruth?"




Tiga hujan yang lalu,

"Waktu kita yang salah, ceritanya mungkin tidak akan seperti ini jika kita bertemu sebelum ini, atau mungkin nanti"

"Ruth, mengapa kamu tak mencoba menggunakan perasaan dahulu lalu menginjak ke harapan? Mengapa kamu tidak berusaha meraih perasaan saya dahulu, mungkin di situ kamu akan mendapatkan harapanmu bersamaku?. Siapa tahu saya akan luluh, siapa tahu kita bisa bersama?"

"Baiklah jika memang perasaanmu bisa dikalahkan oleh harapan, saya setuju dengan cara kamu berfikir dan mengurangi perih yang berlebih-lebih."

"Jadi gini Ruth, benarkan kamu tidak memiliki perasaan terhadap saya? sedikitpun? kamu pasti punya Ruth. Jujurlah"




Dua hujan yang lalu,

"Hari ini kamu happy sekali" 

"Hmm.. Lalu, bagaimana ceritamu Ruth?"

"Seperti ini kisah keluargaku,"

"Ruth, kamu cinta dengan saya? paling tidak kamu menaruh perasaan. Jangan bohongi perasaanmu Ruth, saya tidak suka"



Hujan Kemarin,

"Saya rindu sekali dengan kamu, bisa dibilang 'gemes', itulah puncak rindu saya Ruth"

Mereka berdua berbincang sepanjang malam, di hujan itu Ruth menceritakan beberapa (yang menurut Sambar itu sudah cukup banyak) kisahnya dengan semangat. Membicarakan masa depan yang sesungguhnya membuat Ruth khawatir. Ruth terbiasa menyimpulkan sesuatu yang berada di pikirankan, sedangkan Sambar terbiasa dengan sangat mudah menyatakan emosinya yang tidak pernah tentu yang sedang dia rasakan kepada seseorang. 









Ruth kembali membaca pesan singkat di telpon genggamnya sekali lagi, memastikan tidak ada kalimat yang terlewatkan. 

SENJA AWAL TAHUN, tanpa hujan.
maaf . mendengarkan . tetap di sini . tidak akan menyakiti lebih jauh . Ruth will leave this here.

Pada akhirnya mereka mengartikan harapan dengan cara mereka sendiri-sendiri, dan memilih bahagia dengan jalan sendiri-sendiri. Kadang cinta sebercanda itu.. haha.

"Kamu jangan nyama-nyamain aku sama kamu sendiri ya, dan jangan nyimpul-nyimpulin sendiri! udah nambah lagi yang aku gasuka dari kamu!"
Pesan singkat Sambar di telpon genggam Ruth, membuat Ruth buru-buru menarik nafas dalam di balik pintu kamarnya. Ingatan Ruth langsung kembali ke percakapan hujan-hujan yang lalu.

Sabtu, 16 Agustus 2014

Mari kita sudahi saja (Lanjutan post sebelumnya "aku kuat dan tangguh namun kamu tidak")

Ini kunci dari postingan sebelum ini (judul dengan tanda bintang**)

UBAHLAH KALIMAT AKU MENJADI KAMU, DAN KAMU MENJADI AKU

Semoga perubahan itu tak jauh beda dengan keadaanmu yang sebenarnya.



Kamis, 24 April 2014

AKU KUAT DAN TANGGUH NAMUN KAMU TIDAK **


Lagu itu mengalun sangat pelan, menemani malam-malammu yang terlihat membosankan. Setelah sehari penuh kamu menghadapi banyak karakter dan sifat dari orang-orang di sekitarmu. Lelahkah kamu saat ini? aku tidak mengerti keadaanmu, tapi aku yakin kamu adalah sosok yang tegar.


Ya, aku bisa melihat passionmu itu sejak awal kita bersama. Sikapmu yang selalu menggebu-gebu. Entah apa yang terlintas di fikiranmu ketika sedang bersamaku, tapi aku yakin itu adalah salah satu caramu untuk membuat takjub diriku.


Kamu mungkin sering berfikir, kapan aku akan benar-benar memberikan isyarat bahwa aku mencintaimu dan menyayangimu dengan sebenar-benarnya. Kamu tak akan tau, karna aku tak ingin kamu pergi setelah mengetahuinya. Aku tau sifatmu yang mudah pergi jika sudah mendapatkan jawaban yang kamu inginkan.


Saat ini kamu pasti sedang merindukanku, melamun bersama lagu-lagu dan khayalanmu. Apa yang sedang aku lakukan disini, ah sejujurnya aku tak suka jika kamu berfikir tentangku yang tidak-tidak, kamu pun juga tak akan suka tentunya jika aku sering mengontrolmu, apalagi jika kamu sedang bersama teman-temanmu. Aku faham rasanya di atur-atur dengan kekasih sendiri itu seperti apa. 


Mungkin saat ini pun kamu sedang berusaha menolak lupa tentang janji kita masing-masing, untuk bersifat tidak mengontrol dan memaksakan selalu berkomunikasi. 

Kamu sedang bersih keras untuk menahan diri agar tak memaksakan mencari-cari aku. 

Kamu pun mungkin saat ini sedang menolak untuk benar-benar menerima kenyataan bahwa setengah, separuh ataupun sebelah hatimu itu sedang jatuh dalam genggamanku.

Kamu berusaha menahan diri untuk tidak menuruti egomu.

Kamu menghindar dariku agar perasaan jengkel tak lagi muncul dan menumbuhkan konflik di antara kita.

Kamu mengelak bahwa kamu tak merindukanku.
Tapi kamu tak bisa membantah lagi akan hal itu.



Selanjutnya kamu ingin dan berusaha agar aku juga tau bahwa kamu benar-benar merindukanku dan berharap sesegera mungkin aku menenangkanmu saat ini. Kamu pun mulai menelepon, mengirim pesan di inbox, menungguku di dunia maya , meyakinkan hatimu bahwa aku baik-baik saja dan tidak terjadi sesuatu yang tak ingin kamu rasakan lagi sakitnya.

Setengah mati kamu melakukan itu semua untukku. Ya, begitulah kamu.. Kamu tau apa yang kamu lakukan itu sebenarnya hanya membuat aku tidak bergairah dalam hubungan ini. Kamu selalu berusaha mengalahkan egoku, dan kali ini kamu menang, lebih tepatnya egomu yang menang.



KENYATAANNYA MEMANG KAMU SEDANG BENAR-BENAR MERINDUKANKU SETENGAH MATI

Senin, 21 April 2014

PERLU(KAH)


Seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menamainya menjadi "Sudah Separuh Jalan"? 

Apa ini masih di awal? 

Coba tebak kapan ini akan berakhir? Tidak bisa menjawab?

Haruskah berhenti disini saja?
Oh tidak, jangan lagi. Aku sudah pernah merasakan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tentunya untuk mengetahui ini Sudah Separuh Jalan atau bukan adalah dengan mengetahui kapan hal manis ini akan berakhir. 
Apakah itu penting untuk kita perlu ketahui? 

Apa perlu kita mencari tau tentang ini? 

Bagaimana jika tak usah saja kita hiraukan kebimbangan ini? 
Lalu berpura-pura sajalah tidak melihat masa depanmu seperti apa.


"Ah.. itu terlalu bullshit untuk tidak merencanakan apapun di masa depan"


Apa perlu kita mencari tau tentang ini?

Mengenai Saya

Foto saya
(1402300037) Mahasiswa Diploma III Poltekkes Kemenkes Malang Prodi Kebidanan Jember, biasa disebut Kampus MOJ. Happy Midwifery. Positive Mind, Positive Vibes, Positive Pregnancy.