Jumat, 05 Februari 2016

Whatever the Score


Hari ini ayah bertemu banyak orang..
Pagi ini ayah berangkat melaksanakan tugasnya di pendidikan..
Pagi ini ayah disibukkan dengan agendanya yang super padat..
Pagi ini ayah memulainya dengan semangat..

Siang ini ayah pergi kesana - kemari dengan jadwal meetingnya..
Siang ini ayah menuju Masjid untuk mengimami dan khutbah..

Sore ini ayah menemuiku sepihak janji untuk menjemputku di asrama..
Sore ini ayah memberiku kesempatan (yang kesekian kalinya) untuk mengendarai SIM A..

Malam ini ayah pulang sedari mengisi pengajian..
Malam ini ayah pulang mengendarai sepeda motor yang dibawanya..
Malam ini ayah pulang dengan batuk-batuk yang terdengar dari jalan depan rumah..
Malam ini ayah aku beri kabar tentang nilaiku yang sudah keluar..
Malam ini ayah mengucapkan "Waaa... Congratulation! You're Good" setelah melihat..


Faktanya,
Tidak, sebenarnya tidak hanya pagi, siang, sore dan malam ini ayah begitu. Ayah selalu begitu. Setiap hari seperti itu.

Mari bahas terlebih dahulu tentang nilaiku. Sebenarnya nilaiku turun dan ayah tahu akan hal itu.
Dulu ketika masa SMP (lebih tepatnya kelas 1 dan 2) aku selalu malu dan menutupi nilai2ku. matematika yang selalu mendapat angsa bertelur alias 20. Fisika yang tidak pernah lebih dari 48.
Lalu, bagaimana aku survive dari meminta tanda tangan ketika nilai ulangan harian dikeluarkan?
Ya, minta tanda tangan ke ayah di pagi buta. Entah cara apa itu, meminta tanda tangan dengan lampu yang sengaja tak dihidupkan dengan alasan umum tak ingin mengganggu istirahat, padahal sudah membangunkan (maksudnya, agar tidak lebih parah lagi. sudah membangunkan, masih menghidupkan lampu kamar). Ayah memang tak pernah bertanya banyak ketika aku kebingungan atau ketika tahu ada yang ingin aku tutupi, mungkin tidak ingin aku berbohong, jadi lebih baik diam dan diselesaikan dengan berfikir dewasa. Pernah ada masanya ketika kelas 2 SMP, rankingku sangat jauh dari memuaskan. Aku urutan perempuan kedua dari bawah di kelas. Aku lupa, senakal apa aku saat itu. Yang aku ingat hanya, menganggu temanku, tidak masuk sekolah, pacaran, tidak pernah belajar di rumah, tidak menghiraukan guru baru. ah, 1 yang aku lupa.. mungkin ini yang fatal, aku tidak punya kesungguhan.

Baik, kembali lagi pada ayah dan nilaiku.
Ayah tidak pernah memarahiku tentang nilai akademikku. Bukannya ayah tidak perhatian dengan masa depan anaknya. Mungkin ayah sudah tahu, apa apa yang lebih penting diutamakan dan difokuskan ketika nilaiku muncul. Sampai saat ini aku masih belum bisa menyimpulkan apa apa itu, tapi sedikitnya aku bisa merasakan salah satunya, yakni TANGGUNG JAWAB.

bukan, bukan tanggung jawab seorang anak untuk mendapat nilai bagus dengan banyak dan segala cara.
tanggung jawab ilmu itulah yang perlu di usut bagaimana penguraiannya di kehidupan.
kamu dapat nilai segini, apa yang harus kamu lakukan selanjutnya? untuk kamu, yang lain, disekitarmu, yang memberimu akal, yang merawatmu selama ini?

Ilmu tidak boleh berhenti hanya di stage NILAI. kalo kamu hidup untuk nilai, ya seperti itulah hidupmu, penuh nilai. Bagaimana kamu menilai? Bagaimana orang lain menilaimu? Bagaimana nilainya? cara kamu berfikir adalah bagaimana aku dinilai orang dan bagaimana aku akan menilai. selesai.


Pernah di masa SMA, ayah dan guru yang lain sedang bertugas mengawas saat ujian di sekolahku berlangsung (ya, aku sekolah di tempat kerja ayahku). Perlu diketahui, selain dikenal dengan wibawa, humoris dan eksentriknya ayah ketika mengajar, ayah juga dikenal sebagai guru yang dihindari siswa ketika masa ujian karena ayah selalu tahu siapa siapa yang melakukan kecurangan.
Siang itu materi geografi. Sebenarnya aku sedikit kurang peduli dengan materi ini, karena tidak pernah mempraktekkan apa-apa. Di depanku duduk teman wanita yang sepertinya sangat gusar dan kuatir jika nilainya jelek (read : nyontek buku). Mungkin sedang apesnya, guru yang sedang mengawasi tau dan mendatangi, tak lupa menyita buku itu. Dan yang membuat aku ikut sebal adalah beliau mengira temanku ini sekongkol denganku karena ternyata buku yang dia pakai untuk memanipulasi nilainya adalah bukuku. Situasi pada saat itu adalah, tegang, panas, karena aku mencoba menjelaskan diri yang tidak bersangkutan sedangkan beliau tidak mau mendengar dan tidak mau tau apapun yang aku katakan. Oh, God.. seperti itukah ? hhrr..
Sampai disini aku masih memaklumi salah paham ini, sampai pada akhirnya ketika pulang sekolah dan seperti biasa pulang bersama ayah.

Ayah bertanya "Restu mencontek?"
"Ah, tidak yah"
"Bu A bilang begitu tadi siang"
"Jadi begini yah...(menjelaskan)"
"Ya, Baik. Besok jelaskan kepada Ibu A dengan kalimat yang santun dan baik"

Dari sini sudah jelas, nilai dan ilmu tidak bisa dicampur adukkan dengan kepastian yang mutlak.


Bagaimana dengan nilai malam ini? ya.. ini


Sebenarnya nilaiku selalu turun.. sejak semester 1. dari 3,84 --> 3.60 --> 3.56
Seringnya aku kuatir, seperti teman-temanku lainnya yang sangat kuatir juga karena nilainya turun dan kuatir mengecewakan orang tua mereka.
Ya, sama. Awalnya aku berfikir begitu. But what? lagi-lagi ayah selalu memberiku ucapan selamat dengan nilaiku yang sebenarnya turun. 

The result is I feel blessed. bersyukur untuk semuanya. bersyukur masih diberi kesempatan untuk mempraktikkan ilmu. perlu diketahui, mempraktikkan ilmu di sini bukan hanya ilmu materi. tapi ilmu menerima dan mengolah. menerima yang sudah diberikan, dan mengolahnya menjadi lebih baik. perdayakan apa yang dimiliki sekarang. 

mungkin...
mungkin aku akan menyesal. jika aku tidak bisa menerapkan apapun, tidak bisa mempertanggung jawabkan nilai ini. tidak bisa mengolah softskill dan afektifitas di kehidupanku. lebih lebih di keluargaku. aku akan menyesal jika peluh yang ayah lakukan selama ini sejak pagi buta hingga larut malam tidak berarti apa-apa bagiku. aku akan menyesal dan merasa terkutuk tiap kali mendengar batuk batuk beliau sepulang dari bekerja. aku akan merasa malu dan tidak pantas mendapat kesempatan dijemput dan megendarai ini itu.

Ada banyak yang belum kamu tahu, mungkin belum saatnya. tentang orang orang tua yang rajin berolahraga, dan berjam-jam bersimpuh lama ditempat ibadah disamping melakukan pekerjaannya, apa yang mereka rahasiakan?. mungkin kamu sudah tahu, sudah sangat tahu.

"Nak,... "

Selasa, 26 Januari 2016

30 Maret

Penanda tanggal ulang tahun..
ya..
penanda tanggal ulang tahun saya..
kenapa saya ingin mengulang cerita 30 Maret?
banyak tanggal yang menarik pada harinya sendiri, tapi saya mulai saja di tanggal ulang tahun saya,

ada beberapa hari di ulang tahun saya yang ingin saya tulis.. kenangan, ya kenangan bisa menggoda keabadian. tulis dan tuturkan, jika beruntung menjadi cerita, menjadi legenda.

Saya tidak punya banyak foto ketika masih kecil, pun foto studio bayi yang diabadikan seperti masa kecil kakak pertama saya. saya anak terakhir dari 3 bersaudara. tidak heran, kebanyakan pasangan atau orang tua pasti lumrah mengaggap anak sulung pasti menjadi anak kebanggan pada masanya saat itu. 

30 Maret 1996
lahir di Jember dan pertama kali membuka mata di puskesmas sumbersari, menangis dan diadzan'i. 

30 Maret 2008
ini pertama kali saya meminta ulang tahun saya dirayakan. 

pada masanya saat itu teman-teman banyak yang merayakan ulang tahunnya di sekolah bersama teman-teman sekelas. membagikan kue dan merapalkan doa bersama.

saya coba meminta juga ke Ayah pada saat itu, dengan alasan "sudah kelas 6 yah, kan ga bareng-bareng lagi ntar sama temen-temen". 

Alasan tidak kuat sama sekali yang sebenarnya hanya bertujuan ingin ikut-ikutan seperti teman-teman itu pada akhirnya tak jadi. 

Namun ketika makan siang, ayah pulang membawa makanan sedapat dari rapat di kantornya dan mengucapkan "Selamat ulang tahun, itu ada makanan untuk Restu di dalam tas ayah".

30 Maret 2011
pada hari itu saya sudah punya pacar, tepatnya di kelas 3 SMP. Dia teman sekelas saya, Angga. tak lain dan tak heran saya pasti mendapat kado ulang tahun pertama saya dari teman (dekat) saya. Boneka kukang abu-abu dengan sepucuk surat yang ehem gombalnya. 

30 Maret 2012
saya sudah SMA namun sudah tidak bersama Angga, dengan kata lain saya berpacaran dengan murid sekolah tetangga, Roury. sekilas info, Roury 2 tahun di atas saya dan sudah kelas 3 SMA. sore itu saya tidak bisa kemana-kemana, karna kedapatan tugas mengantar proposal OSIS. 

Roury sedikit sebal, yah apalagi jika karena alasan saya : 
sibuk...
tidak bisa diajak keluar...
tak ingin jalan-jalan jauh... 
(kenapa? Ya, saya backstreet. keluarga melarang saya pacaran pada saat itu.)
dia sempat temui saya di ruang tunggu dan pamit pulang. meninggalkan boneka bantal angry bird warna kuning di Sepeda saya.


30 Maret 2013
Singapur. Lebih tepatnya 29 Maret saya sudah check out dan berpulang ke Ina. yah, tapi tetap saja saya anggap itu masuk dalam hari ulang tahun saya. beberapa hari di sana, sudah cukup puas bagi saya. 

kali ini saya sudah tidak bersama Roury, mungkin saya tidak bisa menjaga dia, ada yang selalu ada baginya membuat saya kalah telak.

Rahmad, saya berpacaran dengan laki-laki tegap pecinta alam yang menempuh studi perkuliahan di bidang kesehatan  itu dengan status LDR Malang-Jember. jangan bilang saya kapok dengan mengambil keputusan berpacaran yang jika ingin bertemu saja harus menunggu bulanan. 

hari itu dia tidak bisa pulang ke Jember (rumah aslinya Jember). jadi dia kirim video cerita kita. dengan backsound lagunya filter-abadinya cinta. *no post needed*

30 Maret 2014
banyak hadiah di tahun ini. dari kakak ipar, mbak Ressa.

Barang serba pink dari Azzah , Sella (mereka temen yang paling nempel dan gak neko-neko). *merayakan tak pada hari H :p

Dan pagi hari dapet kejutan dari pacar yang katanya ngga bisa ikut merayakan, ternyata datang dan nemuin ke jember. ditraktir nasi padang, selfie dan diberi hadiah coklat2 lucuk.

30 Maret 2015
Berstatus ketua kelas semester 2 di kampus...
berstatus adik kamar Mbak Anggra dan Mbak Eka di asrama 15 baru...
berstatus saudara kamar Ica Maulina...
Berstatus pacar dari Rahmad...
berstatus tante dari Khayla..
berstatus adik ipar dari Mas Indra (suami mbak) dan Mbak Ressa (Istri mas)..

ya, setidaknya itu hal-hal baru yang aku dapat di tahun itu.
seperti biasa, azzah dan sella merayakan tak pada hari H dengan kue yang manis seperti yang sedang berulang tahun

keluarga kamar 15 asrama baru dengan kejutan kue dan boneka guling. alasan tak lain adalah karena saya suka meluk tiang ranjang kalau tidur sambil ngelindur sebelum ada guling ini.


ya begitulah ulang tahun saya bersama orang-orang baru ini.

pacar? diucapkan di akhir malam tanggal 30 Maret. saya diputusin satu hari setelah ulang tahun. lagi lagi saya kalah telak dengan perempuan lain yang selalu ada bersama dia, selama saya di sini. ada yang dia cinta, begitu katanya. ada yang harus dia pilih, katanya.

.
.
.
.
yah begitulah hari ulang tahun saya selama ini, belum pernah ada perayaan hingga mengundang orang. tidak ada yang setuju dengan hal itu, saya pun tidak ada hasrat lagi untuk membuat itu. bersama dengan orang-orang yang senang dan sayang dengan saya, sudah sebuah anugrah yang patut di syukuri.



sekarang sudah 2016. ada yang saya tunggu. tapi tidak saya utarakan di sini kali ini. mungkin nanti.

Mengenai Saya

Foto saya
(1402300037) Mahasiswa Diploma III Poltekkes Kemenkes Malang Prodi Kebidanan Jember, biasa disebut Kampus MOJ. Happy Midwifery. Positive Mind, Positive Vibes, Positive Pregnancy.