Hari ini ayah bertemu banyak orang..
Pagi ini ayah berangkat melaksanakan tugasnya di pendidikan..
Pagi ini ayah disibukkan dengan agendanya yang super padat..
Pagi ini ayah memulainya dengan semangat..
Siang ini ayah pergi kesana - kemari dengan jadwal meetingnya..
Siang ini ayah menuju Masjid untuk mengimami dan khutbah..
Sore ini ayah menemuiku sepihak janji untuk menjemputku di asrama..
Sore ini ayah memberiku kesempatan (yang kesekian kalinya) untuk mengendarai SIM A..
Malam ini ayah pulang sedari mengisi pengajian..
Malam ini ayah pulang mengendarai sepeda motor yang dibawanya..
Malam ini ayah pulang dengan batuk-batuk yang terdengar dari jalan depan rumah..
Malam ini ayah aku beri kabar tentang nilaiku yang sudah keluar..
Malam ini ayah mengucapkan "Waaa... Congratulation! You're Good" setelah melihat..
Faktanya,
Tidak, sebenarnya tidak hanya pagi, siang, sore dan malam ini ayah begitu. Ayah selalu begitu. Setiap hari seperti itu.
Mari bahas terlebih dahulu tentang nilaiku. Sebenarnya nilaiku turun dan ayah tahu akan hal itu.
Dulu ketika masa SMP (lebih tepatnya kelas 1 dan 2) aku selalu malu dan menutupi nilai2ku. matematika yang selalu mendapat angsa bertelur alias 20. Fisika yang tidak pernah lebih dari 48.
Lalu, bagaimana aku survive dari meminta tanda tangan ketika nilai ulangan harian dikeluarkan?
Ya, minta tanda tangan ke ayah di pagi buta. Entah cara apa itu, meminta tanda tangan dengan lampu yang sengaja tak dihidupkan dengan alasan umum tak ingin mengganggu istirahat, padahal sudah membangunkan (maksudnya, agar tidak lebih parah lagi. sudah membangunkan, masih menghidupkan lampu kamar). Ayah memang tak pernah bertanya banyak ketika aku kebingungan atau ketika tahu ada yang ingin aku tutupi, mungkin tidak ingin aku berbohong, jadi lebih baik diam dan diselesaikan dengan berfikir dewasa. Pernah ada masanya ketika kelas 2 SMP, rankingku sangat jauh dari memuaskan. Aku urutan perempuan kedua dari bawah di kelas. Aku lupa, senakal apa aku saat itu. Yang aku ingat hanya, menganggu temanku, tidak masuk sekolah, pacaran, tidak pernah belajar di rumah, tidak menghiraukan guru baru. ah, 1 yang aku lupa.. mungkin ini yang fatal, aku tidak punya kesungguhan.
Baik, kembali lagi pada ayah dan nilaiku.
Ayah tidak pernah memarahiku tentang nilai akademikku. Bukannya ayah tidak perhatian dengan masa depan anaknya. Mungkin ayah sudah tahu, apa apa yang lebih penting diutamakan dan difokuskan ketika nilaiku muncul. Sampai saat ini aku masih belum bisa menyimpulkan apa apa itu, tapi sedikitnya aku bisa merasakan salah satunya, yakni TANGGUNG JAWAB.
bukan, bukan tanggung jawab seorang anak untuk mendapat nilai bagus dengan banyak dan segala cara.
tanggung jawab ilmu itulah yang perlu di usut bagaimana penguraiannya di kehidupan.
kamu dapat nilai segini, apa yang harus kamu lakukan selanjutnya? untuk kamu, yang lain, disekitarmu, yang memberimu akal, yang merawatmu selama ini?
Ilmu tidak boleh berhenti hanya di stage NILAI. kalo kamu hidup untuk nilai, ya seperti itulah hidupmu, penuh nilai. Bagaimana kamu menilai? Bagaimana orang lain menilaimu? Bagaimana nilainya? cara kamu berfikir adalah bagaimana aku dinilai orang dan bagaimana aku akan menilai. selesai.
Pernah di masa SMA, ayah dan guru yang lain sedang bertugas mengawas saat ujian di sekolahku berlangsung (ya, aku sekolah di tempat kerja ayahku). Perlu diketahui, selain dikenal dengan wibawa, humoris dan eksentriknya ayah ketika mengajar, ayah juga dikenal sebagai guru yang dihindari siswa ketika masa ujian karena ayah selalu tahu siapa siapa yang melakukan kecurangan.
Siang itu materi geografi. Sebenarnya aku sedikit kurang peduli dengan materi ini, karena tidak pernah mempraktekkan apa-apa. Di depanku duduk teman wanita yang sepertinya sangat gusar dan kuatir jika nilainya jelek (read : nyontek buku). Mungkin sedang apesnya, guru yang sedang mengawasi tau dan mendatangi, tak lupa menyita buku itu. Dan yang membuat aku ikut sebal adalah beliau mengira temanku ini sekongkol denganku karena ternyata buku yang dia pakai untuk memanipulasi nilainya adalah bukuku. Situasi pada saat itu adalah, tegang, panas, karena aku mencoba menjelaskan diri yang tidak bersangkutan sedangkan beliau tidak mau mendengar dan tidak mau tau apapun yang aku katakan. Oh, God.. seperti itukah ? hhrr..
Sampai disini aku masih memaklumi salah paham ini, sampai pada akhirnya ketika pulang sekolah dan seperti biasa pulang bersama ayah.
Ayah bertanya "Restu mencontek?"
"Ah, tidak yah"
"Bu A bilang begitu tadi siang"
"Jadi begini yah...(menjelaskan)"
"Ya, Baik. Besok jelaskan kepada Ibu A dengan kalimat yang santun dan baik"
Dari sini sudah jelas, nilai dan ilmu tidak bisa dicampur adukkan dengan kepastian yang mutlak.
Bagaimana dengan nilai malam ini? ya.. ini
Sebenarnya nilaiku selalu turun.. sejak semester 1. dari 3,84 --> 3.60 --> 3.56
Seringnya aku kuatir, seperti teman-temanku lainnya yang sangat kuatir juga karena nilainya turun dan kuatir mengecewakan orang tua mereka.
Ya, sama. Awalnya aku berfikir begitu. But what? lagi-lagi ayah selalu memberiku ucapan selamat dengan nilaiku yang sebenarnya turun.
The result is I feel blessed. bersyukur untuk semuanya. bersyukur masih diberi kesempatan untuk mempraktikkan ilmu. perlu diketahui, mempraktikkan ilmu di sini bukan hanya ilmu materi. tapi ilmu menerima dan mengolah. menerima yang sudah diberikan, dan mengolahnya menjadi lebih baik. perdayakan apa yang dimiliki sekarang.
mungkin...
mungkin aku akan menyesal. jika aku tidak bisa menerapkan apapun, tidak bisa mempertanggung jawabkan nilai ini. tidak bisa mengolah softskill dan afektifitas di kehidupanku. lebih lebih di keluargaku. aku akan menyesal jika peluh yang ayah lakukan selama ini sejak pagi buta hingga larut malam tidak berarti apa-apa bagiku. aku akan menyesal dan merasa terkutuk tiap kali mendengar batuk batuk beliau sepulang dari bekerja. aku akan merasa malu dan tidak pantas mendapat kesempatan dijemput dan megendarai ini itu.
Ada banyak yang belum kamu tahu, mungkin belum saatnya. tentang orang orang tua yang rajin berolahraga, dan berjam-jam bersimpuh lama ditempat ibadah disamping melakukan pekerjaannya, apa yang mereka rahasiakan?. mungkin kamu sudah tahu, sudah sangat tahu.
"Nak,... "


